Manusia butuh manusia
Kalau tidak salah, seminggu sebelum KKN, hewan peliharaan saya yaitu "embel" si hamster menghembuskan nafas terakhirnya. Berbeda dengan kematian kematian hamster saya sebelumnya yang sakit dulu, baru meninggalkan dunia, embel secara tiba tiba terbaring kaku. Saya rajin memberinya makan, minum, membersihkan kandang sampai sampai saya lupa memang umur hamster tidaklah panjang. Lagi - lagi saya menangis. Mungkin orang lain akan merasa heran melihat saya sebegitunya padahal yang ditangisi adalah hewan kecil mirip tikus yang menjijikan dan baunya aduhay. Namun, bagi saya ia adalah teman berbagi. Jika saya sedih, saya menangis di depannya. Jika saya senang, saya monolog di depannya dengan sangat antusias sambil tertawa, pun kalau saya bertemu orang yang saya kagumi di kampus, saya lapor ke hewan kecil ini sambil mesem mesem. Itulah alasan saya jarang bercerita ke makhluk bernama Manusia, karena saya sudah memiliki makhluk kecil yang bagi saya hidungnya sangat menggemaskan ini. Jadi, bagaimana bisa hari saya tidak hancur saat teman tempat berbagi saya meninggalkan saya selama - lamanya.
Ini terakhir kalinya saya memelihara hewan, itu pikir saya. Saya tidak mau lagi merasakan sakit.
Maka semenjak itu, saya mulai terbuka dengan manusia.
Awalnya aneh, karena bagi saya, sebagai manusia yang rapuh, membuka diri adalah ajang bunuh diri. Cerita kita bisa saja dihakimi yang aneh aneh oleh buah pikiran si pendengar. Namun, manusia adalah makhluk sosial, sehingga butuh yang namanya berkomunikasi, baik itu mendengar mau pun didengar. Saya juga engga boleh selamanya hidup dengan sembunyi sembunyi. Tertutup boleh, namun sama sekali tidak terlihat rasanya salah. Bahkan makhluk mikro (paling sexy) seperti Euglena saja mampu dikenal manusia, sudah saatnya saya dikenal manusia lain juga.
Saat itu saya KKN. Kelompok saya tinggal dalam satu atap baik cowok maupun cewek di rumah yang dihuni oleh satu siswa yang dia pun jarang di rumah. Jadi anggaplah kami kumpul kebo. Dalam 40 hari, rasanya engga mungkin untuk tidak berinteraksi dengan anggota kelompok lainnya. Akhirnya, setiap malam kami sengaja deeptalk. Hal ini alamiah terjadi, karena ada satu anggota kelompok kami yang memang kalong dari lahir bernama Dito (tentu ini nama samaran). Ka Ditto ini suka minum kopi hitam, seperti saya dan teman saya yang satunya bernama Amir (Lagi lagi nama samaran). Sehingga setiap malam kami Mabuk kafein, sambil main kartu. Kalau lelah ya tidur, kalau penat ya ngobrol. Rasanya setiap malam adalah malam yang penat bagi saya dan Ka Dito, sehingga hampir setiap malam kami mengobrol berdua saja (tanpa aneh aneh yaaa, awas kalian mikir kejauhan).
Dari obrolan itu, akhirnya saya menemukan seseorang yang gawenya seperti saya. Suka mendengar, tapi tidak akan kami sebar. Kami engga suka gosip, tapi kalau ada yang bergosip ya silakan, kuping kami siap menampung, tapi dengan syarat gosip itu tak akan menyebar dari mulut kami sendiri. Anggaplah kami kolam taik, gosipnya adalah taik. Kamu bisa tumpahkan taik ke dalam kolam ini, namun kolam ini tidak akan menumpahkan taik taik ke tempat lain. Tempat pembuangan taik terakhir. Cukuplah kami menikmati kekolaman taik ini. Sehingga jika ada yang menyebarkan taik (gosip) yang sama dengan beda cerita, kami mesem mesem sendiri sambil di dalam hati berkata "yak bagus cerita yang beda lagi."
Namun lucunya, orang orang yang seperti ini, jika bertemu dengan orang yang setipe, akan jadi taik juga.
Banyak yang saya dan Ka Dito tumpahkan setiap Deeptalk, dari siapa saja gebetan kami waktu SMP dan SMA, kisah cinta pait, cinta pertama, masa depan mau ngapain, kegelisahan, hal yang ditakuti, musuh dalam selimut, anggota kelompok yang kami gasuka, dosa besar yang pernah kami lakukan, yang bahkan kayaknya Thino dan Ina (nama samaran) yang sangat dekat dengan saya pun kayaknya engga tau. Disitu, saya akhirnya paham pentingnya membuka diri, karena dari situ saya merasa beban beban saya merosot. Selama ini saya ketakutan, tapi saya yakin terbuka dengan orang yang tepat tidak akan menyebarkan topik panas ini.
Darisitulah saya pertama kali didengar tulus oleh manusia secara langsung (biasanya ada Thino, tapi biasanya lewat telepon, kalau ini lewat tatap muka. Rasanya tetap berbeda). Hal ini yang membuat saya sadar, manusia butuh manusia.
Manusia butuh manusia
Reviewed by kicauan ka maro
on
00.10
Rating: 5

