Mengeluh
Aku sering mengeluh kepada kedua orangtuaku, sebab aku mudah sekali kelelahan. Aku mengeluhkan ini itu. Kalau sudah capek, memang kebiasaanku mengeluhkan semua yang ada di depan mataku. Hingga suatu hari aku berhenti mengeluh.
Hari itu aku pulang kesorean lagi. Setelah membuka pintu, aku melepaskan sepatuku dan langsung rebahan di kursi panjang ruang tamu. Aku memanggil berkali kali orang rumahku, isi rumahku kosong. Namun, motor ayahku masih ada di ruang tamu, harusnya masih ada ayah di rumah. Tapi mengapa ayah tidak menjawab panggilanku? Tidurpun dia sering menyahut.
Maka penasaranlah aku. Masuklah aku ke dalam kamar ayah. Kulihat ayah tidur. Kupanggil panggil dia agar bangun. Aku memang sering mengisengi beliau seperti itu. Biasanya dia langsung terbangun, tetapi kali ini tidak. Tiba tiba rasa takut menjulur ke seluruh tubuhku. Langsung lari aku mendekat kepadanya. Kulihat dengan seksama perut buncitnya, masih kembang kempis. Namun, mengapa ia tidak bangun? Aku panggil lagi, kali ini dengan suara keras. Tetap dia tidak bangun. Lalu kuguncangkan badannya, akhirnya dia membuka mata dengan sedikit terguncang.
Aku bertanya, mengapa dia tidak mendengarku. Namun, alih alih menjawab muka dia terbingung bingung. Aku bertanya lagi, lalu dia hanya menjawab "hah?"
Kami berdua saling pandang, hingga akhirnya ayahku mengaku.
"Nak, rasanya kuping ayah dua duanya tidak bisa mendengar lagi. Ini sudah lama ayah rasakan. Tetapi, hari ini suara suara semakin hilang."
Begitulah ayahku, tidak pernah mengeluh jika sakit. Tidak pernah membicarakan apa yang dia rasakan. Ternyata telinga beliau sudah sakit semenjak 2 bulan yang lalu. Terkadang aku sebal dengan sikap sok kuatnya ayah. Namun, itulah ayah.
Semenjak itu aku tidak pernah mengeluh lagi, sebab ternyata selama ini keluhanku tidak bisa didengar. Bahkan ayahlah yang lebih harus didengar, seandainya dia mau mengeluh.
#30haribercerita #30hbc21 #30hbc2109
Mengeluh
Reviewed by kicauan ka maro
on
00.09
Rating: 5

