Elo nafas engga ada asepnya kan?
Waktu SMA, saya punya teman yang hobi duduk di
genteng sekolah. Sebetulnya bukan genteng, tapi perbatasan pagar antara balkon
dan genteng. Saat saya tanya dia sedang apa, dia bilang enak duduk di sini, bisa
lihat kendaraan di flyover. Teman – teman saya yang lain mana kepikiran akan
hal itu-duduk ya tinggal duduk. Mulai dari sana saya berpikir, “wah anak ini
absurd. Bagus – bagus. Harus gue jadiin temen.”
Sebelum itu, ada ulangan agama islam. Supaya engga
mencontek, urutan duduknya diatur ulang menggunakan urutan absensi. Entah sial
atau bagaimana, saya duduk dengan teman yang saya ceritakan tadi. Saya itu baru
kenal dia sebatas nama. Jadi, canggung sekali rasanya. Malah ada satu hal yang
membuat saya salfok, bulu tangan. “eh, Abil. Itu bulu tangannya asli?” pertanyaan
bodoh saya terlontar dari mulut. Kalau dia orang biasa-dia pasti jawabnya
sewot, tapi karena dia bukan orang biasa(wkwkwk) dia jawab “Iya, Mauli.” Dengan
tegas sambil menatap saya-Kayaknya dia menunggu respon saya yang lain, tapi malah
saya pelototin dia. Habisnya matanya besar banget dan tatapannya aneh--menurut
saya hal itu menyebalkan. Baru tau saya kalau itu tatapan mata anak minus.
Setelah selesai mengerjakan soal tanpa mencontek,
saya bengong ke arah papan tulis. Abil, teman sebangku saya itu nampaknya sudah
selesai juga. Sudah saya bilang, saya kalau canggung terlihat sekali. Mungkin
hal itu yang membuat dia akhirnya berkata “di Jepang, orang – orang pada engga
percaya agama.”
“Terus mereka percayanya apa?” tanya saya sedikit
antusias.
“Matahari. Mereka percaya kalau Tuhan itu Matahari.”
“Kok bisa, padahal kan pas malam, mataharinya
nyumput ke negara sebelah.”
“karena,bagi mereka hal apapun itu butuh cahaya
matahari. Misalnya, tumbuhan butuh matahari. Manusia butuh matahari. (dan
banyak alasannya, cuman saya lupa hehe)”
Saya menggaruk kepala saya yang tak gatal. Jujur,
saya senang meladeni orang seperti ini. Banyak hal yang kami obrolkan, saya
akhirnya tau siapa Mahatma Gandhi, Elon musk, dan masih banyak lagi. Obrolan
berhenti karena kami harus mengumpulkan kertas jawaban ulangan harian agama
islam.
Beberapa tahun kemudian, saya masih berteman baik
dengannya. Obrolan kami masih “absurd” seperti biasanya--mau itu di sosmed,
ataupun bertemu langsung. Singkat cerita, satu bulan yang lalu dia bertanya
kepada saya tentang biologi. Saya sedih, soalnya setiap dia bertanya mengenai
biologi, saya selalu tidak bisa menjawab. Malah saya terus yang dapat ilmu dari
dia. Ilmu yang baru saya dapat dari dia mengenai incinerator-sebuah teknologi
untuk membakar sampah yang ramah lingkungan. Otak saya ngepul dibuatnya. Kok
bisa ramah lingkungan, kan asapnya kemana-mana? Bahkan incinerator bisa
dijadikan pembangkit listrik tenaga sampah. Hal ini yang sedang ia praktekan--karena
iseng, tapi masih belum berhasil.
“Kok bisa ga ada asepnya? Itu asepnya kemana?”
Dan dia jawab,
“ya proses kimia biasalah, pembakaran sempurna
hasilnya air dan CO2. Kayak elo nafas, elo nafas ga ada asepnya kan?”
Jujur, saya waktu ngobrol ini sedang sedih2nya karena
overthinking, tapi sedih saya sedikit hilang (malah bingung). Masih banyak yang
kami obrolkan malam itu, rata – rata penerapan sains di kehidupan.
Sains, seharusnya ilmu yang bisa diterapkan di
kehidupan. Bahkan, saat mengambil keputusan--kita butuh berpikir secara sains-yaitu
berpikir ilmiah. Masih ingat bagaimana cara berpikir ilmiah yang dituliskan
step by stepnya di buku biologi kelas 10 di BAB Satu? Namun hal ini tidak diterapkan
sebagian orang, bahkan yang lulusan ilmu sains. Langkah2 berpikir ilmiah hanya
muncul di bagian opsi jawaban ujian nasional Biologi. Miris, tapi saya juga
masih dalam lingkaran setan ini. Engga heran, kalau kebanyakan dari kita mudah
sekali termakan berita bohong. Kita mudah mengangguk – angguk dengan isi berita
itu tanpa mengobservasi lagi. Engga heran, saat saya ditanya Abil, saya cuman
bisa ngangguk2 kayak embe sedang makan daun. Padahal bisa jadi omongan Abil salah, tapi saya juga engga keberatan sama dia, alias malas debat. Ini bahaya sebenarnya, tapi yasudah. BTW, embe makan daun apa rumput?
Saya selalu jujur jika memuji seseorang. Setelah Abil
pamer pengetahuan,Saya puji dia “Sains kalau diterapin ngeri,ya. Kayak elo.”
“ah, cuman sains SMA, doang. Aku kan ga kuleyah. Wkwkwk”
Setelah dia bilang begitu, saya ingin menjitak
kepalanya. J


Nice story, keep it up! :D
BalasHapus