Tidak Mood
Malam ini, rasanya saya tidak mau menulis apa – apa. Loh kok
bisa sih, engga ada ide ya elo? Ada, banyak malah idenya (lah sombong), tapi
niat untuk menuangkannya ke bentuk tulisan itu tidak ada. Aneh. Tidak ada rasa
menggebu – gebu seperti malam – malam sebelumnya. Hal ini saya rasakan juga
saat menulis tulisan tentang teman saya, Abil. Padahal rasa ingin menceritakan
Abil sudah ada saat subuh. Akhirnya saya curhat ke Abil. “Bil, engga tau susah
banget nulisnya.” Terus dia jawab “Tulis – tulis aja, Mauli( Gue pasrah kok mau
elo tulis gimana). Nanti kalau udah selesai, elo bandingin tulisan elo yang
lagi gak mood gimana dan yang lagi mood gimana.” Jawabnya bijak. Namun baru
enam hari, saya sudah bisa melihat perbedaannya.
Susah sekali ya, hidup bergantung dengan mood. Apa – apa itu
berantakan kalau moodnya sedang jelek, tapi apapun bakal bagus kalau moodnya
sedang baik. Tapi, apa hal ini benar? Beberapa orang pasti menganggap hal ini
salah. Eits tapi ternyata ini bukan masalah benar dan salah loh, melainkan baik
atau buruk. Begini, bisa jadi yang saya tulis itu benar, namun bisa jadi salah
karena ada juga orang yang bekerja tidak dipengaruhi mood. Tapi, jika kita
melakukan perkerjaan atau suatu hal lalu menumpukannya pada “mood saya” maka
bisa jadi hal ini buruk juga bisa jadi hal baik. Menurut saya hal ini tidak
baik karena saya ingin bekerja secara persisten, kalau saya bekerja sesuai mood
dan sedang berada di mood yang jelek maka hasilnya tidak maksimal-tidak
terwujud bentuk persisten. Ini yang mau saya ubah dari saya berbentuk zigot
sampai saya melihat teman seumuran saya berjenggot. Susah, namun bukan berarti
tidak mungkin.
Waw sudah 267 jumlah kata yang ditulis di atas, saya senang
sekali. Itu tandanya syarat challenge saya sudah terpenuhi (minimal menulis 200
kata). Lalu sebenarnya apa yang mau kau tulis tadi dan apa maksudnya? Tidak ada,
hanya asal ketik saja.


Tidak ada komentar: