Hobi Saya Mengamati Burung
Ini mungkin akan menjadi tulisan saya yang paling
cepat diketik. Baik, jadi saya punya hobi mengamati keadaan sekitar alias
bengong. Banyak hal yang saya perhatikan. Misalnya saat saya sedang duduk
sendirian di tempat ramai, saya sering melihat ke-uwu-an orang lain. Gunanya
apa? Ya apalagi selain menimbun rasa iri dan bergumam dalam hati “dua tiga anak
copet, kapan hati aku dipepet.” (mulai ngawur.) Namun, selain mengamati orang –
orang, saya lebih suka mengamati binatang, terutama burung.
Tentu teman – teman yang membaca ini tau bahwa saya
adalah mahasiswa jurusan pecinta makhluk hidup. Mengamati burung merupakan
salah satu kegiatan memenuhi 1 SKS di kampus saya. Namun jauh sebelum hal itu
wajib dipelajari, saya sering mengamati burung – burung yang terbang di rumah
saya. Saya tau pukul berapa sekarang ini hanya dengan mendengar suara gerombol
burung yang lewat di atas sana. Biasanya jam 9, jam12 malam, jam 3 dan jam 5 subuh, gerombolan burung yang sampai
sekarang saya tidak tau jenisnya lewat atap rumah saya sambil teriak teriak.
Dikiranya sudah bagus apa mereka begitu? Awalnya saya merasa kesal (pas SD)
tapi karena tidak ada yang bisa memarahinya dan kebetulan cuman saya yang
merasa terganggu, maka saya mencoba damai dengan kehadiran mereka.
Selain burung berisik itu, beberapa burung
gereja-yang akhirnya saya tau jenisnya- suka bertengger di kabel dan tiang
listrik. Saya sering mengamatinya di sekitar rumah dan lucunya mereka mengamati
saya balik. Saya tidak mau menerawang pikiran mereka saat melihat saya, karena
saya tau mereka sepertinya agak eneg melihat saya. Hal yang saya suka dari mengamati
mereka ialah, kayaknya ya, mereka suka berantem satu sama lain. Kalau ada
makanan, mereka akan buru – buru mengambil itu dan tak jarang malah rebutan.
Saat mereka sedang rebutan itulah detik-detik dimana saya senang mengamati
mereka. Apalagi saat ada yang akhirnya tidak dapat makanan. Mampus, mangenak?
Kalau sudah hampir magrib, alias senja, saya
terkadang mengamati langit. Bukan karena saya anak Indi-penikmat senja pecandu
kopi, tapi kadang saya iseng mengamati burung terbang. Diam – diam saya ingin
terbang, bebas di langit bersama teman – teman saya. Mulai pikiran saya
menerawang ada teman – teman saya-jadi burung bersama saya-yang juga burung
terbang sore –sore ke entah berantah. Maklum tidak ada tujuan. Terbang terus,
yang penting bebas. Cuman, kok rasanya aneh. Bebas iya, tapi tidak ada tujuan.
Bersama iya, tapi tidak ada tempat pulang. Sebenarnya burung – burung itu sedih
tidak ya? Karena menurut saya hal yang paling menyedihkan itu adalah tidak ada
tempat untuk pulang. Ah mereka hanya burung, bukan manusia yang tiap malamnya
selalu overthinking.


Tidak ada komentar: