Iqbal mau jadi singa yang jago berhitung
Hari ini salah satu teman KKN saya datang ke rumah
dengan alasan minta film Marvel-yang saya kira doi mau maaf – maafan karena
dosa dia banyak banget. Sebelumnya dia memang izin mau datang-yang saya
iyakan-tapi tetap saja kabar dia mau datang tidak menghilangkan rasa malas
mandi saya. Kebetulan seharian hujan
lebat, membuat saya engga percaya kalau dia bakal datang-jadi saya tidur saja.
Saat saya tidur, saya bermimpi kalau dia
mengirim pesan aneh dan saya kaget-sehingga saya bangun dari tidur. Saya
langsung mengecek hp lalu membuka pesan dari dia yang isinya “OTEWE”. Saya pikir
yaudahlah biarin aja, eh taunya dia sudah ada di depan rumah dan menghebohkan
kedua orang tua saya.
“Mauli!!!! Ada temen kamu!!” Saya panik karena saya belum mandi, banyak
belek, dan malas pakai jilbab. Untungnya saya waktu KKN memang sekucel
sekarang, jadi “yaudah deh, anak ini doang ngapain eug dandan.”
Kalau membicarakan KKN, saya menjadi kangen
suasananya. Banyak kegiatan di sana, tapi yang paling saya suka yaitu mengajar
anak TK. Kelompok KKN kami membuka bimbingan belajar untuk kelas apapun.
Untungnya tidak ada anak SMA dan SMP nya karena menurut saya pasti bakal lebih
susah. Anak SD dan Anak TK saja sudah bikin kewalahan. Kami sama – sama membagi
kelas, dan karena dari awal yang mengajari anak TK itu saya, maka saya sampai
akhir mengajar anak TK dibantu dengan teman saya, Adinda.
Ada satu anak, yang dari awal tidak mau bicara sama
sekali. Dia menatap saya penuh ke-enggaksuka-an. Saya tatap balik dia penuh
cinta (hoek). Setiap saya tanya dia, dia enggan menjawab. Saya tanya namanya pun
tak mau buka mulut. Lalu saya lihat bukunya, aduhai berantakan sekali. Dia tidak
mengerti cara menulis angka. Angka 2,4,7 dan 9, semua yang dia tulis
terbalik. Dia susah berhitung. Saat saya mengajari anak yang lain, saya beri dia
perhatian lebih. Saya suruh yang lain menulis 1-7, saat mereka sudah selesai,
dia pasti belum-lalu saya pelan pelan ajari dia walaupun akhirnya tugas yang
saya kasih ke anak – anak dia selesaikan dengan terlambat. Saya tidak pernah
marah ke anak – anak, karena khawatir nanti mereka bakal takut dengan saya. Saya
juga tidak mau meremehkan mereka. Saya ajari pelan – pelan walaupun ujungnya
saya yang sakit kepala.
Nama anak yang engga suka saya itu Iqbal. Akhirnya
saya tau nama dia saat saya tanya basa basi mengenai penghapusnya. Ternyata,
Iqbal ini hobi mengoleksi penghapus-ada bentuk singa,bebek, kura2, dan masih
banyak lagi. Semuanya ia beri nama. Saat saya tanya kenapa, dia senyam senyum
tidak bisa jawab. Lalu saya bilang kalau saya dulu juga mengoleksi penghapus
yang bentuknya ular dan saya beri nama Uli (tentu saja saya bohong) dan dia
mempercayai itu. Dari sana kami menjadi dekat. Dia memberi tau saya kalau dia
cita – citanya ingin menjadi singa. Saya bilang ke dia kalau singa harus bisa
berhitung.
Ternyata si Iqbal ini saudaraan dengan induk semang. Suatu
hari, saat mereka mengadakan acara pengajian, Iqbal dan Anin (nama anak induk
semang) bermain di rumah. Saya masuk kamar hendak berganti pakaian, lalu di
Iqbal ikutan masuk. Saya tanya dia ngapain, lalu dia bilang kalau sedang
cosplay menjadi bebek- sambil megang dua bantal kursi tamu yang masing masing
diapit di kedua ketiaknya. Saya bilang, kalau bebek suaranya kwek kwek. Lalu
dia mengangguk dan keluar dari kamar sambil bilang kwek – kwek – kwek. Apakah
dia anak aneh? Jelas tidak. Dia hanya anak kecil dengan imajinasinya yang
keren. Dia memang susah menulis, tapi dia jago menghapal. Kalau kalian tanya
ini huruf apa ke dia, dia bisa jawab. Tapi kalau kalian menyuruh dia menulis
huruf tersebut, dia akan menulisnya dengan terbalik. Saya bilang ke dia ini
tidak salah, tapi Iqbal bakal lebih keren lagi kalau menulisnya sama persis
seperti yang dicontoh. Dia mengangguk dan berusaha-walaupun hasilnya lebih unik
lagi-namun makin hari dia makin jago. Saya tersenyum, begini rasanya berhasil
mengajari orang ya?
Kembali ke teman saya tadi, saat saya tanya dia “Weh,
ngapain aja elo di kampung?”
Dia sewot sambil bilang “Ehh, mana ada gue di
kampung. Gue di Metro yaa, bukan di kampung gue. Metro itu kota. KOTA!”
Saya tertawa mendengar dan melihat ekspresinya. Kapan ya terakhir kali melihat anak ini ngambek ahahaha.


Tidak ada komentar: