Kwetiau dan Pandangan Mauli Tentang Hidup
Rumah saya lagi adem ayem-nya. Di dalamnya, ada keluarga saya sedang nonton Kun Anta di MNC TV, film favorit mami. Saya tiba – tiba nyeletuk, “Nanti malem ada gerhana bulan.” Mendengar saya, Abi dan Mami mengangguk2 saja.
“Enaknya makan mie rebus pasar kalau gerhana bulan.” Kata saya yang sebenarnya lapar. Lalu Abi saya bangun dari duduknya, dan langsung ngambil kunci motor sambil berkata “iye, iye bilang aja elu laper.” Saya cekikikan.
Tinggal di daerah dekat pasar dan kuliner PKOR tidak mudah, temanku. Kalau kalian sudah mupeng alias muka pengen, engga bisa ditahan-tahan karena jarak jajanannya dekat. Belum lagi kami dimanjakan oleh abang-bakso,abang sate, abang mie tektek, abang mi dogdog yang lewat depan rumah sambil teriak2 isi dagangannya. Kalau tidak punya uang, ya sedih tapi kalau punya uang ya gendut.
Malam ini saya makan mie kwetiau rebus yang dibeli di pasar. Sebelum makan, saya menari-nari kesenangan dulu, bukti bahwa saya bersyukur (wkwk bukannya doa). Setelah menuangkan mie dari plastik ke mangkok, saya mengambil sendok dan mencicipi kuahnya. Loh, tumben. Rasanya kurang sedap. Insting saya mengatakan bahwa mie kwetiau ini kurang garam. Pergilah saya ke dapur dan mengambil garam halus. Saya kasih garam seperempat sendok makan. Maknyus. Ini baru namanya Mie Kwetiau.
Kalau beli makanan, keluarga saya memang selalu beli satu porsi yang nantinya dibagi tiga, kadang dua karena Abi saya suka mengalah. Bukan karena miskin, namun karena kebersamaan (alias mami sering ga abis, saya kadang tidak mood makan, 1 porsi itu kebanyakan). Mami saya mengeluh karena rasanya kurang asin. Padahal mah tinggal ditambah garam kan? Gara-gara itu, dia akhirnya mengambil mie dengan jatah sedikit, saya menyambut hal ini dengan baik, Abi saya juga.
Kasian mami, harusnya dia bisa menikmati kwetiau rebus kalau dia mau menambah sedikit garam. Toh tidak ada susahnya, garam sudah saya ambil, ya tinggal tuang. Sayangnya, mami saya memilih untuk mengeluh dan tidak melanjutkan makan. Nah begitu juga hidup, temanku. Ada yang namanya prinsip tambah kurang. Kalau ada yang kurang, tinggal ditambah. Begitupula sebaliknya, kalau ada yang lebih tinggal dikurang. Mengeluh boleh, tapi kalau hanya mengeluh tanpa mengubah, yaudah ga dapat yang dimau dong. Kadang, ada yang tidak bisa dikurang, maupun ditambah. Tapi tak apa, masih bisa diubah. Tapikan tapikan, ada yang engga bisa diubah, Mauli. Takdir misalnya. Masih ada yang bisa diubah, wahai temanku, yaitu pandanganmu. Cara pandang bisa diubah, tergantung pandanganmu bagaimana.


Akhir paragraf yang menenangkan. Keren, kak👍
BalasHapus