Pecahkan Saja Gelembungnya
Rani namanya, seorang
gadis berkuncir kuda yang sedang melamun di antrian kasir. Dia dipanggil
berulang kali oleh penjaga kasir, namun nihil, Rani masih tenggelam dengan
lamunannya. Tepukan dari seseorang di belakangnya menyadarkan Rani. Rani
membelalakkan mata dan langsung melangkahkan kakinya. Di depan kasir, Ia
menyodorkan Mba Igon-sebuah merek obat nyamuk cair. Mba igon itu diambil
penjaga kasir dan dimasukkan ke dalam plastik. Rani merogohkan kantong
celananya dan menemukan sejumlah uang yang pas sesuai harga satu botol Mba
Igon. Nampaknya Ia memang sengaja menyiapkan uang pas. Sehingga setelah
memberikan uangnya, Ia bisa langsung melengos pergi.
Rani sudah sampai di
rumahnya. Tidak ada perabotan sama sekali, jikalau tidak ada kasur putih dan
meja tulis di sana. Ada banyak sampah di mana mana, bungkus mie instan yang
paling banyak. Rani menjatuhkan badannya di kasur dan menutup wajahnya dengan
kedua tangannya. Teringat lagi kejadian yang akhir akhir ini dialaminya yaitu sebagai
korban bullying internet. Jempol netizen yang membenci pekerjaan Rani sangat
asyik mengomentari foto foto Rani. Rani si gendut katanya, tak cocok jadi Beauty Influencer. Sehingga Rani diet
selama tiga bulan, namun tak ada hasilnya. Sebab, Rani memang sudah kurus, hanya
saja pipinya tembam. Nampaknya tak ada cara diet untuk lemak pipi, sehingga
usaha Rani nol.
Pembully-an makin
panas, sehingga Rani berani membalas komentar netizen lebih pedas. Namun
semenjak itu, nama Rani menjadi makin populer sebagai bintang porno. Tentu saja
itu hoax. Tidak ada bukti, yang ada hanya omong kosongnya netizen tak waras.
Hal ini merisak Rani sampai 5 bulan hingga Rani tak tahan lagi. Kini di
sampingnya ada Mba Igon. Lengkap sudah peralatan yang direncanakan Rani. Rani
hendak bunuh diri. Diambilnya Mba Igon dari plastik itu. Sebelum dibuka, Rani
menatap Mba Igon tesebut. Mungkin saja dia bisa mundur. Tapi datang lagi
pikirannya yaitu salah satu komentar pedas netizen “mati saja elo, mending elo bunuh diri.”
Siap, Rani akan bunuh diri sekarang. Diteguknya Mba Igon itu. Satu teguk, dua
teguk, tiga, empat, dan tak tau lagi berapa teguk yang ujung – ujungnya dia
puntahkan. Namun. Rani merasakan sakit kepala yang hebat diiringi nafas yang
sesak. Matilah si Rani, sambil menggenggam dendam untuk netizen.
Tapi kok ada yang
janggal. Rani tidak merasakan apapun.
Apakah ini definisi kematian? Semakin dipikirkan kok semakin bingung. Rani
ingin membuka mata tapi takut kalau kalau dia sekarang ada di alam baka. Tapi
beneran deh, ini aneh. Malaikat tak kunjung datang dan menyapa. Apa Rani
memakai cara yang salah untuk mati? Ya jelas salah dong, namanya juga bunuh
diri.
Dua jam Rani menunggu.
Wah sungguh tidak beres. Apa memang Tuhan sengaja tidak meladeni mayat manusia
yang bunuh diri. Karena ingin protes, Rani membuka matanya. Tiba – tiba rasa
hangat memeluk Rani. Ia melihat pemandangan yang indah. Dia sedang di ruangan
bernuansa biru dan sedang terlentang di sofat dekat perapian. Ia membangunkan
badannya, sambil melihat sekelilingnya. Di luar jendela ia melihat salju turun.
Aneh, negaranya bukan Negara empat musim, kok bisa ada salju.
“Nenek!” kata bocah
laki laki yang tiba – tiba menghampiri Rani. Spontan ia kaget.
Melihat neneknya tidak
merespon panggilannya, si bocah merengut dan pergi. Ia mengeluarkan gawai dari
kantung celananya sambil duduk di sofa samping neneknya. Dia mulai mengotak
ngatik layar gawainya dan tiba tiba blub blub blub muncul banyak sekali
gelembung. Lucu sekali. Ini pertama kalinya Rani melihat itu.
“Loh itu apa? Kok bisa
gawai mengeluarkan gelembung?” tanya Rani spontan.
“Lah, kok nenek ga tau?
Ini kan InstaGel media sosial yang lagi hits sekarang.” Kata bocah itu.
Gelembung – gelembung
itu tidak seperti gelembung biasanya yang langsung terbang melayang tanpa
tujuan, mereka diam seperti menunggu respon si Bocah. Bocah itu lalu meniup
gelembung – gelembungnya dan ajaibnya gelembung gelembung itu menjauh sambil
membesar. Ukurannya sampai seukuran laptop 16 Inc, besar sekali untuk seukuran
gelembung. Tiba – tiba muncul orang orang di dalam sana yang langsung menyapa
si Bocah. Si Bocah menyapa balik. Asik sekali rasanya. Bocah itu bergaya
sesukanya dan menceritakan semuanya dengan lancar. Orang – orang itu meladeni
si Bocah.
“Kau kenal orang –
orang itu?” tanya Rani.
“ya Engga lah, Nek.”
“lalu bagaimana
caranya?” tanya Rani lagi.
“Kan semenjak pandemi
korona, kita tidak bisa keluar sama sekali. Lalu munculah aplikasi ini yang
bisa digunakan oleh semua orang maupun robot. Tapi ada syaratnya, yaitu tidak
boleh berkenalan dan tidak boleh memakai identitas asli kita. Lihat ini, aku
memakai nama SempakLaut!” jawab si Bocah antusias.
Rani tertawa mendengar
user name milik bocah itu.
“Mengapa tidak boleh
pakai nama asli?” tanya Rani sekali lagi.
“Aduh nenek gimana sih!
Engga semua manusia itu baik, nek! Kalau pakai identitas asli, nanti ada orang
yang menipu orang lain menggunakan identitas kita. Toh supaya engga baper juga
kalau nanti ada yang menyakiti kita.”
“Menyakiti? Kayak bully
gitu?”
“Engga mungkin sampai
membully nek. Di sini aman. Ada caranya. Palingan cuman ngejek gitu, tapi ada
juga kan ejekan yang bikin sakit.”jawab bocah itu.
Nampaknya percakapan
ini didengar oleh orang orang yang ada di gelembung itu, sehingga ada seseorang
dari salah satu gelembung yang sewot kepada mereka.
“Apasih nenek tua itu? Bodoh
sekali. Mana pipinya bulat banget tapi keriput! Sudah tua jelek pula.” Katanya.
Lalu bocah itu tersenyum
dan bilang “tapi kau pun sama jeleknya, padahal masih muda.” Setelahnya ia
tusuk gelembung itu menggunakan jari telunjuk. Plup! Gelembungnya pecah.
“Nah, Karena aku
memecahkan gelembung dengan jari telunjuk maka sama saja aku memblokir pengguna
tadi. Selamanya aku tidak akan berhubungan dengan orang tadi. Aku engga
masalah, toh dia bukan temenku. Engga kenal juga. Jadi buat apa diladeni lebih
lanjut.” Jelas si Bocah.
“Okeylah. Tapi walaupun
begitu, jadinya kepikiran kan?” Kilah Rani.
“Ya itu tergantung
pikiran nenek sendiri. Apa susahnya mengabaikan pikiran yang buruk? Kalau nenek
kepikiran hal buruk terus, berani memang nenek lagi ga ada pikiran lain alias
nenek nganggur. Ada banyak cara memecahkan gelembung nek, begitupula cara
mengabaikan omongan orang lain. Omongan orang lain yang isinya hanya mengejek
tanpa membangun itu sama saja omong kosong. Ga ada isinya. Ngapain diladen.” Jawab
si Bocah.
Rani tertegun. Ia
mengingat apa yang sedang ia alami akhir – akhir ini. Dia bisa saja memblokir
semua haters yang dia punya di sosial media. Cuman rasanya pasti tak mudah.
Rani cemas dan menggigiti jarinya. Tapi, walaupun susah bukan berarti tak bisa
kan? Harusnya Rani bisa melakukannya walau sambil kesusahan. Karena lebih baik kesusahan
seperti itu dibanding kesusahan akibat selalu memikirkan kata mereka. Saat Rani
asyik merenung, tiba – tiba pintu terbuka, masuklah seorang Ibu muda yang
wajahnya seperti Rani.
“Ibu, maaf kelamaan
menunggu ya? Ini teh campur gadamalanya.” Katanya sambil membawa nampan yang di
atasnya terdapat 3 gelas bening berisi the gadamala.
“Yeaayy, gadamala! Teh pembasmi
korona!” teriak si bocah dan dengan cepat mengambil dua gelas. Ia hampiri
neneknya lalu ia beri neneknya itu segelas the gadamala.
“Ini, nek. Diminum ya.
Agar kita terbebas dari Korona!” kata si bocah sempaklaut itu.
Rani menurut. Ia ambil
gelas itu dari tangan mungil si bocah, lalu pelan pelan meneguk teh yang masih
hangat itu. Setelah degukan ke tiga, Rani meletakkan tehnya ke meja di samping
sofa. Ia pun menguap dan mengambil posisi tidur. Ia merebahkan dirinya dan
mulai menutup mata. Hingga akhirnya semua gelap. Gelap yang sangat menakutkan
sekali. Keheningan yang mencekam Rani ini membuat Rani ingin cepat cepat
membuka mata lagi. Dibukalah matanya, dan mata itu melihat langit langit
berwarna putih. Bau karbol ada di mana – mana. Tiba – tiba wajah Ibunya Rani
yang sedang menangis itu ada di hadapan Rani.
“Dia bangun, Mas.
Alhamdulillah! Rani tidak jadi mati.” Katanya.


Tidak ada komentar: